Ini ditujukan hanya untuk tulisan ringan saja...
Ok, begini lho...aku mau cerita betapa mudahnya depresi bisa mengganggu kondisi jiwa seseorang, mulai dari pekerjaannya, kelakuannya dan perlakuannya terhadap orang lain, maupun kepada dirinya sendiri. Aku sendiri tidak tahu, hari-hari ini aku kok merasa gampang banget ya mengalami depresi, mulai dari marah kepada diriku sendiri, ke orang lain, bahkan ke boss ku sendiri.
Kadang aku pura-pura ketawa saja kalau aku ingin orang tidak tahu betapa aku merasa depresi, sampai di suatu titik aku tidak bisa menahannya maka aku rasanya ingin menangis, untung aku seorang cowok jadi tangisanku hanya kupendam di hati saja.
Kata orang bijak yang kuliat di internet, depresi itu menular bagaikan virus lho...jadi apabila ada orang yang lagi depresi dan kita deket-deket sama dia dan tidak bisa menjaga diri bisa-bisa malah kita jadi ketularan depresi, gitu deh katanya. Maunya menghibur tapinya jadi keikut depresi malah. Hihi...
Mungkin benar, saat sekarang ini beberapa temen dekatku terkena depresi yang sifatnya macam-macam, mau tidak mau terus-terang aku juga ikut merasakan auranya meskipun aku tidak tahu persis apa yang menyebabkan mereka depresi. Soalnya kalau aku tidak merasakan auranya, eh, dikira suka cuek dan tidak bersimpati. Aduh...jadi serba salah deh.
Yang pasti aku tetep akan mencoba untuk bisa "menyembuhkan" depresi mereka dan semoga itu tidak membawa akibat buruk buat diriku sendiri.
Ada beberapa tips untuk bisa menghadapi depresi ketika kita mengalaminya, yaitu:
1. Ambil liburan secara teratur.
2. Makanlah makanan sehari-hari yang menyehatkan.
3. Hindari kafein, alkohol dan tembakau.
4. Lakukan olahraga secara teratur.
5. Berlatihlah beberapa teknik rileksasi seperti yoga, meditasi, latihan pernapasan.
6. Hadapilah masalah yang terjadi dalam pekerjaan maupun hubungan (relationship), dan pecahkan.
7. Belajarlah untuk mengenali ambang stres Anda sendiri, dan jangan memaksakan diri untuk melampauinya.
8. Pertimbangkan untuk memiliki hewan peliharaan, karena bisa membantu Anda menjadi rilek.
9. Bicarakan masalah Anda dengan ahlinya. Konselor profesional dapat membantu melihat persoalan secara obyektif, dan menempatkan masalah dalam perspektif yang tepat.
Yang pasti, cobalah bicara dengan teman dekat untuk membicarakan masalah yang sedang kita hadapi. Paling tidak kita sudah membuka diri untuk itu.
Selasa, 05 Februari 2008
Selasa, 29 Januari 2008
Dia
Mungkin ini tulisan pertama yang paling tidak kuharapkan akan kutuliskan sebelum-sebelumnya. Tapi bagaimanapun juga kegetiran, semangat, dan keinginan memberikan aku celah untuk bisa membaginya kepada siapa saja yang rela maupun tidak rela membuang sebagian waktunya demi seonggok ceritaku...
Akhir-akhir ini pikiranku semakin tidak jernih saja, integritasku diragukan, keberanianku diuji. Oleh peristiwa-peristiwa dan orang-orang. Aku cuma bisa berharap Allah menguatkan hati ini ketika aku ingin menemani perasaan yang telah melandaku dan menggenggam sebutir harapan dalam lubuk hatiku yang paling dalam.
Dan semua itu tidak lepas dari sebutan seseorang yang kupanggil "dia"...
Masih terngiang-ngiang dalam otakku berbagai komentar yang ada;
temanku bilang, "jangan ganggu dia"
sahabatku bilang, "lebih baik tinggalkan dia, tetapi apapun keputusanmu aku akan tetap mendukung"
the one that i called my sister said, "i will not agree with what you doing"
sahabatku yang lain bilang, "please don't do that"
temanku bilang, "kamu akan melukai orang-orang yang kamu sayangi"
my best friend said, "may Allah will guide you both to the best path"
...dan...aku cuma bisa tersenyum kecut mendengar semua itu :-)
Aku tahu aku tidak muda lagi dan tidak seharusnyalah melakukan ini. Tetapi, aku tidak bisa menafikan dia dari selubung khayalanku. Sepanjang hari selalu-lah kuingat kenapa aku bisa seperti ini dan seperti itu, mungkin hanya Allah dan takdir sebagai pemberian-Nya yang mampu menjawabnya. Kepadanya aku menaruhkan harapan dan kebahagiaanku yang telah dititipkan oleh Allah.
Aku juga tahu, betapa banyak orang menghinakan dia sampai ke titik di mana aku pun takut mengalaminya, bahkan yang bisa kulakukan hanya menghiburnya dan berusaha memahami apa-apa yang dia lalui. Meski juga banyak orang bilang dia orang yang aneh, tidak bisa bergaul, keras kepala, seperti anak kecil, bermasalah, tidak punya kemampuan, tidak pengertian, dan selain-selain itu. Apakah peduliku dengan semua itu, tidak, aku tidak membutuhkan kebalikan semua itu.
Akhir-akhir ini pikiranku semakin tidak jernih saja, integritasku diragukan, keberanianku diuji. Oleh peristiwa-peristiwa dan orang-orang. Aku cuma bisa berharap Allah menguatkan hati ini ketika aku ingin menemani perasaan yang telah melandaku dan menggenggam sebutir harapan dalam lubuk hatiku yang paling dalam.
Dan semua itu tidak lepas dari sebutan seseorang yang kupanggil "dia"...
Masih terngiang-ngiang dalam otakku berbagai komentar yang ada;
temanku bilang, "jangan ganggu dia"
sahabatku bilang, "lebih baik tinggalkan dia, tetapi apapun keputusanmu aku akan tetap mendukung"
the one that i called my sister said, "i will not agree with what you doing"
sahabatku yang lain bilang, "please don't do that"
temanku bilang, "kamu akan melukai orang-orang yang kamu sayangi"
my best friend said, "may Allah will guide you both to the best path"
...dan...aku cuma bisa tersenyum kecut mendengar semua itu :-)
Aku tahu aku tidak muda lagi dan tidak seharusnyalah melakukan ini. Tetapi, aku tidak bisa menafikan dia dari selubung khayalanku. Sepanjang hari selalu-lah kuingat kenapa aku bisa seperti ini dan seperti itu, mungkin hanya Allah dan takdir sebagai pemberian-Nya yang mampu menjawabnya. Kepadanya aku menaruhkan harapan dan kebahagiaanku yang telah dititipkan oleh Allah.
Aku juga tahu, betapa banyak orang menghinakan dia sampai ke titik di mana aku pun takut mengalaminya, bahkan yang bisa kulakukan hanya menghiburnya dan berusaha memahami apa-apa yang dia lalui. Meski juga banyak orang bilang dia orang yang aneh, tidak bisa bergaul, keras kepala, seperti anak kecil, bermasalah, tidak punya kemampuan, tidak pengertian, dan selain-selain itu. Apakah peduliku dengan semua itu, tidak, aku tidak membutuhkan kebalikan semua itu.
Langganan:
Postingan (Atom)